Anak

Dan seorang perempuan yang menggendong bayi dalam dekapan dadanya berkata, “Bicaralah padi kamu perihal anak Al-Mustafa.”

Dan Al-Mustafa berkata :

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu. Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu.

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu. Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri. Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka, tapi bukan jiwa mereka. Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi. Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu. Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu.

Engkau adalah busur-busur tempat anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan. Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia merenggangkanmu dengan kekuatannya, sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh. Jadikanlah tarikan tangan Sang pemanah itu sebagai kegembiraan. Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur teguh yang telah meluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

Ciuman Pertama

Itulah tegukan pertama dari cawan yang telah di isi oleh para dewa dari air pancuran cinta. Itulah batas antara kebimbangan yang menghiburkan dan menyedihkan hati dengan takdir yang mengisinya dengan kebahagiaan. Itulah baris pembuka dari suatu puisi kehidupan, baba pertama dari suatu novel tentang manusia. Itulah tali yang menghubungkan pengasingan masa lalu dengan kejayaan masa depan. Ciuman pertama menyatukan keheningan perasaan-perasaan dengan nyanyian-nyanyiannya. Itulah satu kata yang diucapkan oleh sepasang bibir yang menyatukan hati sebagai singgasana, cinta sebagai raja, dan kesetiaan sebagai mahkota.

Itulah sentuhan lembut yang mengungkapkan bagaimana jari-jari angin mencumbui mulut bunga mawar, mempesonakan desah nafas kenikmatan panjang dan rintihan manis nan lirih. Itulah permulaan getaran-getaran yang memisahkan kekasih dari dunia ruang dan matra dan membawa mereka kepada ilham dan impian-impian. Ia memadukan taman bunga berbentuk bintang-bintang dengan bunga buah delima, menyatukan dua aroma untuk melahirkan jiwa ketiga. Jika pandangan pertama adalah seperti benih yang ditaburkan para dewa di ladang hati manusia, maka ciuman pertama mengungkapkan bunga pertama yang mekar pada ranting pohon cabang pertama kehidupan.

Berperang Demi Cinta

  Ketika bintang senjakala mulai menabur serbuk sepi, musuh-musuh telah melarikan diri bersama luka tersayat-sayat akibat sengatan senjata pedang dan tusukan tombak yang menghunus tubuh. Para pendekar suku kami mengibarkan bendera kemenangan dan melantunkan lagu-lagu semangat juang selaras dengan irama hentakan kuda-kuda perang di atas lembah bebatuan.
 Rembulan mulai beranjak dari peraduan Fam El-Mizab, sebuah gunung yang kekuatan dan ketinggiannya hanya dapat didaki oleh semangat jiwa-jiwa yang bersemi, dan hutan cedar pegunungan itu terhampar laiknya sebuah medali kehormatan yang disematkan di dada Lebanon.
 Para prajurit mulai melanjutkan pawai di bawah cahaya rembulan yang bersinar di atas tenda-tenda senjata mereka. Gua-gua yang terpencil menggemaung dalam lagu-lagu pujian dan kemenangan, hingga kesemuanya meraih kaki lereng bebukitan. Di sana mereka tergilas oleh bebatuan kelabu yang seolah hasil pahatan seorang ahli.
  Di dekat kuda mereka tampak sebuah jenazah, di atas permadani bumi ai terbentang berlumur darah. Panglima pasukan berteriak “Tunjukkan padaku pedang lelaki itu dan kalian akan aku beritahu siapa pemilik tunggal pedang tersebut.”
  Beberapa penunggang kuda turun dan mengelilingi mayat lelaki itu sampai kemudian dari mereka berkata pada panglima “Jari-jarinya menggenggam kokoh pangkal pedang. Mustahil kita akan memperoleh keterangan perihal kematiannya.”
  Yang lainnya bertutur, “Pedangnya telah berlumuran darah hingga menyembunyikan logamnya.”
  Orang ketiga menambahkan, “Darahnya beku di tangan hingga menggapai pangkal pedangnya seolah keduanya telah menyatu.”
  Kemudian panglima pasukan turun dari kudanya dan berjalan mendekati sosok mayat itu, lalu berkata, “Angkat kepala lelaki itu dan biarkan mentari bulan menyibak tirai kegelapan wajahnya sehingga kita dapat mengorek keterangan asal-usul keluarganya.” Para pasukan komandan segera melaksanakan titah tuannya. Wajah orang yang terbunuh itu nampak dari belakang kabut kematian dengan menunjukkan tanda-tanda bahwa dia merupakan seorang keturunan ningrat terhormat. Itulah wajah sosok penunggang kuda yang perkasa dan jantan. Wajah itu adalah wajah seorang lelaki yang tengah berjuang melawan penderitaan sambil bercengkrama dalam kegembiraan, itulah wajah yang semangatnya membara saat berhadapan dengan musuh-musuhnya, menghadapi kematian dengan tersenyum, wajah seorang pahlawan dari Lebanon, yang pada suatu hari telah meraih kemenangan, namun-seribu sayang-tak sedikit pun ia sempat ikut merayakan kemenangannya bersama sahabat-sahabatnya.
  Lantas mereka menanggalkan penutup kepala yang terbuat dari sutera dan membersihkan debu peperangan dari wajahnya yang pucat pasi, dan panglima pasukan itu pun menangis terisak, menahan pilu “Oh, ternyata dia adalah putera Assaaby, pasti seluruh keluarganya merasa sangat kehilangannya!” Mereka menyebut nama itu berulang kali, mendesau panjang. Lalu keheningan menyelimuti tiap-tiap hati dan jiwa, semuanya hanyut tenggelam dalam anggur kemenangan, ketenangan, dan sunyi senyap. Karena mereka telah melihat sesuatu yang teragung melebihi keagungan kemenangan, dan keagungan itu berada pada diri sang pahlawan yang telah tiada.
  Laksana patung pualam, mereka berdiri dalam situasi yang begitu menakutkan, lidah mereka kelu, pahit dalam kebisuan dan menenggelamkan pita suara mereka. Inilah kematian jiwa seorang pahlawan pemberani. Tangis dan ratapan sedih diperuntukkan bagi para wanita, rintihan dan air mata diperuntukkan bagi anak-anak mereka. Tidaklah pantas seorang lelaki pendekar yang menggenggam pedang namun terlena dalam penderitaan berbalut kesunyian sampai mencengkeram keteguhan hati seperti cengkraman kuku elang pada kerongkongan mangsanya.
  Kesunyian semakin menambah suasana derita sedih jiwa-jiwa yang tengah menjerit pilu, menambah kemalangan yang berseliweran dalam jurang ngarai yang curam. Kesunyian itu memproklamirkan kedatangan suatu prahara. Namun prahara enggan menampakkan wujud sebenarnya lantaran kesunyian itu lebih kuat ketimbang prahara itu sendiri.
Mereka melepaskan jubah pahlawan muda itu, terlihatlah nganga luka di mana kematian membentang di atas kuku-kuku besinya. Bagai bibir yang sedang berbicara, dalam keheningan malam yang syahdu, luka nganga tampak di dada mayat yang terbujur, mayat pahlawan pemberani.
Sang panglima pasukan menghampiri mayat lelaki itu dan berlutut di bawah duli kakinya. Ia melayangkan tatapannya begitu tajam pada mayat yang terbunuh tersebut. Akhirnya dia menemukan syal yang disulam dengan benag-benang emas yang terikat pada lengannya. Sang panglima ternyat dapat mengenali tangan yang pernah memintal sutra dan jari-jari yang telah menenun benag-benang syal itu. Dia menyembunyikan syal itu di balik jubahnya lalu menariknya perlahan-lahan, menyembunyikan wajahnya yang tergores dengan tangan yang menggigil gemetaran. Dengan tangan yang gemetaran itulah yang akhirnya selalu memenggal kepala musuh-musuh. Sekarang tangan gemetaran itu menyentuh ujung selendang yang diikat oleh jari-jari sang pencinta, kemudian membungkus lengan pahlawan yang terbunuh itu, yang akan kembali pada kekasih tambatan hatinya dengan tubuh tanpa nyawa, dibakul di atas pundak para sahabat-sahabatnya.
Sementara itu sang komandan ragu dan bimbang, mempertimbangkan perihal dua sesuatu. Kedua sesuatu itu adalah antara tirani sebuah kematian dan rahasia-rahasia cinta. Salah seorang dari mereka mengusul, “Mari kita gali pusaranya di bawah pohon Oak sehingga pohon Oak itu akan meminum darahnya dan cabang-cabang pohon itu menerima makanan dari sisa-sisa jasadnya. Hal itu akan menambah kekuatan, menjadi keabadian dan berdiri sebagai tanda yang tengah berkhutbah pada bukit-bukit dan lembah-lembah lantaran keberanian dan kekuatannya.”
Yang lain berkata lagi, “Sebaiknya kita bawa saja lelaki ini ke hutan Cedar dan menguburnya di gereja. Di sana tulang-tulangnya akan dijaga abadi oleh bayang-bayang kayu salib yang melintang.”
Seseorang yang lainnya berkata. “Kuburkan saja dia di sini karena darahnya pasti menyatu dengan bumi. Biarkan pedangnya tetap sudi menemaninya dalam rangkulan tangan kanannya, tanamlah tombaknya di sampingnya dan bunuhlah kudanya di atas pusaranya dan biarkanlah senjatanya bersorak-sorak dalam kemenangan.”
Namun yang lain keberatan, “Jangan kuburkan pedang yang telah berlumuran darah itu dengan darah musuh, demikian pula jangan kalian membunuh kuda yang telah menahan kematian di medan perang. Jangan biarkan pedang yang kerap kali digunakan untuk berperang melawan musuh berada di hutan belantara, akan tetapi bawalah lelaki itu bersama kuda dan pedangnya kepada sanak keluarganya sebagai harta warisan yang termahal dan paling berharga.”
“Marilah kita semua berlutut di hadapannya dan memanjatkan doa-doa Nazarene bahwa Tuhan pasti memaafkannya dan memberkati kemenangan yang kita raih,” kata yang lain.
“Marilah kita naikkan jasadnya ke atas pundak kita karena ddengan perisai dan tombak ini kita dapat mentandu jenazahnya sambil kita mengelilingi bukit kemenangan ini, menyanyikan lagu-lagu semangat juang. Biarlah bibir-bibir lukanya tersenyum bahagia sebelum nantinya dia dikuburkan di hamparan bumi pekuburan.” Seorang sahabat lain menimpali.
Dan yang lain berkata, “Mari kita naikkan mayatnya di atas bebannya dan mendukung dia dengan tengkorak-tengkorak musuh yang telah meninggal dan sambutlah dia dengan tombak miliknya lalu kita bawa ke desa kemenangan. Ketahuilah, tidaklah dia pernah berkurban untuk kematian sampai ia dibebani jiwa-jiwa sang musuh.”
Berkata yang lain, “Kemarilah, di kaki gunung ini, di kaki gunung inilah kita akan menguburnya. Gema dari gua-gua akan bersahabat bersamanya dan bisikan ricik-ricik air akan merestui dirinya sebagai penghibur abadi. Tulang-tulangnya akan beristirahat dalam hutan belantara di mana telapak malam yang sunyi menjadi cahaya dan kelembutan baginya.”
Seorang yang lain berkeberatan dan berkata, “Tidak, jangan kalian rela meninggalkan dia seorang diri di di tempat lengang begini, karena siapapun yang mendiami tempat ini pasti akan merasa jemu dan digilas kesepian. Tetapi bawalah dia ke tempat tanah pemakaman desa. Bukankah di sana pula roh para leluhur kita akan menjadi sahabat sejati dan akan berbicara kepadanya ketika malam-malam sunyi mencekam dan menuturkan kisah cerita peperangan dan bagaimana mereka meraih kemenangan dari tangan musuh-musuh mereka.”
Mendengar perdebatan sengit yang tak kunjung berakhir, maka panglima pasukan berjalan ke tengah serdadu dan menyampaikan penjelasan kepada mereka semua apa arti sebuah kesunyian. Dia mendesah panjang dan mulai berkata, “Jangan ganggu dia dengan kenangan akan peprangan atau pun berbisik ke telinga jiwanya, yang mengungkungi kita akan kisah pedang dan tombak. Sudah terlalu banyak air mata dan kesedihan yang membanjiri hamparan bumi ini. Tiadalah yang lebih terhormat ketimbang membawanya dalam keadaan damai dan tenang menuju tempat di mana ia dilahirkan, di mana jiwa pencinta menantikan kepulangannya…..sebuah jiwa gadis perawan suci yang tengah menunggu kembalinya san kekasih dari medan perang. Marilah ia kita kembalikan pada wanita pujaan hatinya itu sehingga sang kekasih tidak lebih merana dan tak mengingkari paras wajahnya dan mengingatkan bekas-bekas ciuman perpisahan di keningnya.”
Mereka lalu beramai-ramai menggotong jenazah lelaki itu di atas pundak mereka dan menyusuri jalan-jalan dengan bisu, hening tanpa gema suara, setiap kepala tertunduk takzim dan hikmat, tampaklah mata-mata sedih menatap sayu. Tidak ketinggalan pula di belakang mayat itu ikut kuda tunggangannya, berjalan sambil meneteskan kristal-kristal air mata kerinduan buat tuannya yang tercinta, dengan ringkikan pilu dari suatu waktu ke waktu. Gua-gua pun ikut mendoakan jenazah yang ditandu itu menggemakan diri mereka bahwa mereka sudi menjadi hati yang ikhlas berbagi kesedihan dan duka cita bersamanya. Melalui jalan-jalan berbukit terjal, dihiasi bulan purnama, prosesi kemenangan berjalan penuh hikmat di belakang arak-arakan kematian dan ruh-ruh Cinta membimbing jalan menuju sepasang sayap-sayap yang tercabik-cabik.

Rahasia Jodoh

 Berpasangan engkau telah diciptakan. Dan selamanya engkau akan berpasangan. Bergandengan tanganlah kamu hingga sayap-sayap panjang nan lebar lebur dalam nyala. Dalam ikatan agung menyatu kalian.

Saling menataplah dalam keharmonisan. Dan bukanlah hanya saling menatap ke depan. Tapi bagaimana melangkah ke tujuan semula.

Berpasanganlah engkau dalam mengurai kebersamaan. Karena tak ada yang benar-benar mampu hidup sendirian. Bahkan keindahan surga tak mampu menghapus kesepian Nabi Adam.

Berpasanganlah engkau dalam menghimpun rahmat Tuhan. Ya, bahkan bersama pula dalam menikmatinya. Karena alam dan karunia Tuhan terlampau luas untuk dinikmati sendirian.

Bersamalah engkau dalam setiap keadaan. Karena bahagia tersedia bagi mereka yang menangis. Bagi mereka yang disakiti hatinya, bagi mereka yang mencari, bagi mereka yang mencoba.

Dan bagi mereka yang mampu memahami arti hidup bersama. Karena itulah yang menghargai pentingnya orang-orang yang pernah hadir dalam kehidupan mereka.

Bersamalah dikau sampai sayap-sayap sang maut meliputimu. Ya, bahkan bersama pula kalian dalam musim sunyi. Namun biarkan ada ruang antara kebersamaan itu. Tempat angin surga menari-nari diantara bahtera sakinahmu.

Berkasih-kasihlah, namun jangan membelenggu cinta. Biarkan cinta mengalir dalam setiap tetesan darah, bagai mata air kehidupan yang gemerciknya senantiasa menghidupi pantai kedua jiwa. Saling isi lah minumanmu tapi jangan minum dari satu gelas. Saling berbagilah rotimu tapi jangan makan dari piring yang sama.

Menyanyilah dan menarilah bersama dalam suka dan duka. Hanya biarkan masing-masing menghayati waktu sendirinya. Karena dawai-dawai biola, masing-masing punya kehidupan sendiri. Walau lagu yang sama sedang menggetarkannya. Sebab itulah simfoni kehidupan.

Berikan hatimu namun jangan saling menguasainya.

Jika tidak, kalian hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kalian temukan dalam dia. Dan lagi, hanya tangan kehidupan yang akan mampu merangkulnya.

Tegaklah berjajar namun jangan terlampau dekat. Bukankah tiang-tiang masjid tidak dibangun terlalu rapat? Dan pohon jati serta pohon cemara tidak tumbuh dalam bayangan masing-masing?

Cinta

Kemudian berkatalah Al-Mustafa. Bicaralah kepada kami perihal cinta

Dan dia mengangkat kepalanya memandang ke arah kumpulan manusia itu, dan dengan suara lantang dia berkata :

Apabila cinta memanggilmu, ikutilah ia walaupun jalannya terjal dan berliku. Apabila sayapnya merengkuhmu, serahkanlah dirimu kepadanya walaupun pedang yang terselip pada sayapnya akan melukaimu. Apabila ia berkata-kata percayalah padanya walaupun suaranya akan menghancurkan mimpimu seperti angin utara yang memusnahkan taman-taman karena sekalipun cinta memahkotaimu ia juga akan mengorbankanmu. Walaupun ia menyuburkan dahan-dahanmu ia juga mematahkan ranting-rantingmu, walaupun ia memanjatdahanmu yang tinggi dan mengusap ranting-rantingmu yang rimbun dalam remang cahaya matahari, ia juga turun ke akar-akarmu dan menggoncangkannya dari perut bumi.

Seperti seberkas jagung ia akan mengumpulkanmu untuk dirinya, membantingkanmu sehingga engkau terkapar tak berdaya. Mengoyakmu sehingga terpisah dari kulitmu, membersihkanmu sehingga engkau menjadi putih bersih. Mengulimu agar kamu mudah dibentuk dan selepas itu membakarmu di atas bara api agar kamu menjadi sepotong roti yang diberkati untuk hidangan kenduri Tuhanmu Yang Maha Suci.

Semua ini akan cinta lakukan padamu supaya engkau memahami rahasia hatinya dan dengan itu menjadi wangi-wangian kehidupan. Tetapi seandainya di dalam ketakutanmu engkau hanya mencari kedamaian dan nikmat cinta maka lebih baiklah engkau membalut dirimu yang tak berdaya itu dan menyingkirlah dari peraduan cinta yang penuh gelora ke dunia gersang yang tidak bermusim di sana, engkau akan tertawa tetapi bukan tawamu dan engkau akan menangis tetapi bukan air matamu.

Cinta tidak memberikan apa-apa melainkan dirinya dan tidak mengambil apa-apa melainkan daripadanya sendiri. Cinta tidak menjaga siapapun dan cinta tidak boleh dikawal siapapun karena cinta telah cukup dengan dirinya sendiri. Dan apabila engkau bercinta, engkau tidak seharusnya berkata, “kejadian adalah hatiku”. Sebaliknya berkatalah, “aku adalah kejadian”. Dan janganlah engkau berpikir engkau boleh menentukan arah cinta karena seandainya cinta memberkatimu ia akan menentukan arah perjalananmu. Cinta tiada nafsu melainkan dirinya, tetapi seandainya kamu bercinta dan ada nafsu pada cintamu itu maka biarlah yang berikut ini menjadi nafsumu ; menjadi air batu yang cair membentuk anak-anak sungai yang menyanyikan melodi cinta pada malam gelap gulita untuk mengenal betapa pedihnya kemesraan untuk merasa luka karena engkau kini mengenal cinta dan rela serta gembira melihat darah dari lukanya untuk bangun pada waktu fajar dengan hati yang lega dan bersyukur untuk satu hari lagi yang terisi cinta untuk beristirahat ketika matahari remang. Untuk mengingti kemanisan cinta yang tidak terperi, untuk kembali ke rumahmu ketika air mati dengan rasa kesyukuran di dalam hati dan dalam tidurmu berdoalah untuk kekasihmu yang bersemayam di dalam hatimu dengan lagu kesyukuran pada bibirmu.

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 1 pengikut lainnya

  • Kategori